Rabu, 27 Juli 2011

Seputar Puasa

Fatwa Ulama Seputar Puasa Ramadhan

Soal 1 : Perkara apa yang seyogyanya dikerjakan dan wajib bagi seorang yang menjalankan puasa Ramadhan ?


Jawab : Seyogyanya bagi seorang yang menjalankan puasa Ramadhan untuk memperbanyak amalan ketaatan dan menjauhi seluruh perkara yang dilarang. Wajib baginya memelihara perkara-perkara yang diwajibkan dan menjauhkan dirinya dari perkara yang diharamkan. Menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah bersama kaum muslimin di masjid. Meninggalkan kedustaan, ghibah, penipuan dan amal riba serta seluruh perkataan dan perbuatan yang diharamkan. (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Soal 2 : Apa hukum bagi seorang yang menjalankan puasa Ramadhan akan tetapi dia tidur di sepanjang siang ? Seseorang yang tidur dan bangun hanya untuk menjalankan perkara yang difardlukan kemudian tidur kembali ?


Jawab: Ada dua keadaan dalam soal ini :


1. Seseorang yang tidur di sepanjang siang pada bulan Ramadhan dalam keadaan dia berpuasa, yang demikian tidak diragukan lagi bahwa dia telah berbuat kejahatan pada dirinya sendiri dan berbuat maksiat kepada Alloh dengan meninggalkan sholat tepat pada waktunya. Apabila dia termasuk ahlul jamaah (orang yang diwajibkan untuk menjalankan sholat berjamaah dimasjid) maka dirinya telah meninggalkan jamaah dan itu adalah haram. Wajib baginya bertaubat kepada Alloh dan menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid.


2. Seseorang yang tidur pada bulan Ramadhan dan bangun hanya untuk menjalankan sholat yang difardlukan tepat pada waktunya dengan berjamaah, yang demikian tidak berdosa akan tetapi dia telah terluput dari amal kebaikan yang banyak. Seyogyanya orang yang berpuasa menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, doa dan membaca Al-Quran sehingga terkumpul dalam puasanya ibadah-ibadah yang lainnya. Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila dia mengembalikan dirinya untuk mengerjakan dan memelihara amalan ibadah maka amal-amal ibadah tersebut akan mudah dia jalankan. Sebaliknya apabila dia mengembalikan dirinya dalam kemalasan, kelemahan dan keadaan yang sulit maka akan mendapatkan dirinya dalam keadaan sulit dan malas untuk menjalankan amalan ibadah. Saya nasehatkan agar memelihara amalan ibadah pada bulan Ramadhan, pasti Alloh akan memudahkan amalan kita.

(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).


Soal 3 : Seseorang yang bekerja sebagai sopir angkutan luar kota pada bulan Ramadhan, apakah dia dihukumi sebagai seorang yang bersafar (bepergian) ? Dan bagaimana dengan amalannya?


Jawab : Na’am, dia dihukumi sebagai seorang yang bersafar (bepergian). Berlaku baginya hukum sholat Qoshor, jama’ dan berbuka puasa. Apabila dikatakan: “Kapan mereka berpuasa dan beramal secara rutin?”


Kami katakan : “Mereka berpuasa pada hari-hari yang mudah untuk men-jalankannya”. Adapun sopir dalam kota tidak berlaku atasnya hukum safar dan wajib untuk menjalankan puasa. (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)


Soal 4 : Rosululloh bersabda (yang artinya): “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam amalan sahur itu terdapat barokah”, apa yang dimaksud dengan barokah sahur ?


Jawab : Yang dimaksud dengan barokah sahur adalah:


a. Barokah syar’iyyah, yaitu mendapat-kan barokah dengan mencontoh dan mengikuti Rosululloh.


b. Barokah badaniyyah, yaitu mendapatkan barokah kekuatan badan disaat kita menjalankan puasa pada siang hari.

(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)


Soal 5 : Berlebih-lebihan dalam mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa, apakah bisa mengurangi pahala puasa?


Jawab : Tidak mengurangi pahala puasa seseorang. Perbuatan haram semacam ini apabila dikerjakan seseorang setelah selesai menjalankan puasa, tidak akan mengurangi pahala puasanya. Akan tetapi termasuk perbuatan haram yang dikatakan oleh Alloh dalam Al-Qur’an (yang artinya):


“Makan dan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan (melampau batas). Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. Al-A’raf: 31).


Berlebih-lebihan (melampau batas) adalah perkara yang dilarang. Apabila kalian mempunyai keutamaan dan kelebihan rizki maka infaqkanlah, karena yang demikian lebih utama. (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)


Soal 6 : Sebagian pemuda yang mudah-mudahan mereka diberi petunjuk oleh Alloh, mereka malas menjalankan sholat pada bulan Romadlon dan amalan lainnya. Akan tetapi mereka memelihara dan menjalankan puasa Romadlon meskipun mereka menahan lapar dan dahaga. Apa nasehat Syaikh kepada mereka dan bagaimana hukum puasa yang mereka jalankan ?


Jawab : Aku nasehatkan kepada mereka untuk memikirkan keadaannya dan memperhatikan bahwa sesungguhnya sholat termasuk rukun Islam yang paling tinggi kedudukannya setelah syahadatain. Apabila mereka mening-galkan sholat karena meremehkan dan malas menjalankannya, maka pendapat yang kuat dan rajih berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dari perbedaan para ulama’ , mereka dihukumi telah keluar dari agama Islam (kafir) dan telah murtad. Meninggalkan sholat bukan suatu perkara yang remeh, orang yang telah kafir dan murtad tidak akan diterima puasa, shodaqoh dan amalan-amalan yang lainnya. Dalilnya adalah firman Alloh (yang artinya):


“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan” (Q.S. At-Taubah : 54).


Dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwa nafkah-nafkah mereka yang memberikan manfa’at kepada sesama tertolak dan tidak diterima karena disebabkan kekafiran mereka. Mereka yang menjalankan puasa tetapi tidak melaksanakan sholat, maka puasanya tertolak dan tidak diterima selama kita mengikuti pendapat yang kuat berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menghukumi mereka telah kafir dan murtad. Saya nasehatkan kepada mereka agar bertaqwa kepada Alloh dan memelihara sholat tepat pada waktunya dengan berjama’ah bersama kaum muslimin.


Saya memberi jaminan kepada mereka dengan kekuatan dari Alloh, apabila mereka menjalankan yang demikian, pasti mereka akan mendapatkan dirinya dalam keadaan kuat azamnya untuk beramal dibulan Romadlon dan diluar bulan Romadlon, demikian juga dalam memelihara sholat tepat pada waktunya dengan berjama’ah bersama kaum muslimin. Karena sesungguhnya orang yang kembali kepada Alloh dengan taubat Nashuha (taubat yang benar dengan menjalankan syarat-syaratnya), dia akan mendapatkan dirinya lebih baik dari keadaan sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh di dalam Al-Qur’an tentang keadaan Nabi Adam setelah melanggar perintah Alloh untuk tidak memakan salah satu tanaman di surga. Alloh berfirman (yang artinya) :”Kemudian Robbnya memilihnya (mensucikannya untuk kenabian dan dekat dekat dengan-Nya), maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk” (Q.S. Thoha : 122).

(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)



Soal 7 : Apabila seorang yang berpuasa bermimpi mengeluarkan air mani pada waktu siang di bulan Romadlon apakah membatalkan puasa ? Dan apakah wajib baginya untuk menyegerakan mandi janabah ?

Jawab : Tidak membatalkan puasa karena bukan dari kehendak dan kemauannya, dan wajib baginya untuk mandi janabah. Misalnya, kalau ada seseorang bermimpi mengeluarkan air mani pada waktu setelah sholat fajar/subuh dan menunda mandi janabah sampai masuk waktu sholat dhuhur, maka yang demikian tidak apa-apa. Seorang suami/istri yang berjima’ pada malam bulan Romadlon dan menunda mandi janabahnya sampai masuk waktu fajar/subuh, yang demikian tidak apa-apa. Karena sesungguhnya Rosululloh pernah berjima’ dengan istrinya pada malam hari dan masih dalam keadaan junub di waktu subuh, kemudian beliau mandi janabah dan menjalankan puasa. Demikian juga wanita yang haid dan nifas, apabila keduanya suci/bersih pada waktu malam (setelah habis waktu sholat isya’) maka boleh baginya menunda mandi janabah sampai waktu shubuh kemudian berpuasa. Tetapi tidak boleh bagi keduanya menunda mandi janabah atau sholat sampai terbitnya matahari.
Wajib baginya bersegera mandi janabah setelah masuk waktu subuh dan menjalankan sholat tepat pada waktunya.
(Fadhilatu As Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Bazz Rahimahullah).

Soal 8 : Apa hukumnya suntik pada siang bulan Romadlon bagi orang yang menjalankan puasa ?

Jawab :


Berobat dengan suntik bagi orang yang menjalankan puasa ada dua macam :

1. Suntik yang di dalamnya terdapat zat pengganti kekuatan badan, makan dan minum maka batal puasanya karena sesungguhnya nash-nash syar’i menjelaskan apabila didapatkan makna yang demikian (keadaan suntik yang didalamnya terdapat zat pengganti kekuatan badan, makan dan minum), maka hukum puasanya batal.

2. Suntik yang di dalamnya tidak terdapat zat pengganti kekuatan badan, makan dan minum maka sah puasanya karena tidak ada makna yang dimaksud secara syar’i. Maka sah puasanya sampai didapatkan perkara-perkara yang bisa menyebabkan rusak/batalnya puasa dengan sebab perbuatannya tersebut secara syar’i. (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Soal 9 : Apa hukumnya orang yang membasahi kepala dan badannya dengan air atau duduk di tempat khusus yang bisa menyegarkan badan pada saat puasa bulan Romadlon ?

Jawab : Yang demikian boleh dan tidak membatalkan puasa. Sungguh Rosululloh membasahi kepalanya dengan air karena disebabkan keadaan yang panas atau haus dalam keadaan beliau berpuasa. Demikian juga shohabat Abdulloh bin Umar membasahi bajunya dengan air untuk meringankan puasanya karena disebabkan keadaan yang panas atau haus. Kesegaran yang didapat dalam keadaan yang demikian tidak berpengaruh atas puasa seseorang.
(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Soal 10 : Apa hukumnya membaca doa qunut dalam sholat witir di malam bulan Romadlon ? Apakah boleh ditinggalkan?

Jawab : Hukum membaca doa qunut dalam sholat witir di malam bulan Romadlon adalah sunnah, apabila terkadang ditinggalkan hukumnya adalah boleh.
(Fadhilatu As Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Bazz Rahimahullah)

Soal 11 : Seorang suami mencumbu istrinya di siang hari bulan Romadlon, apakah merusakkan puasanya?

Jawab : Seorang suami yang mencumbu istrinya di siang hari bulan Romadlon baik dengan tangan, wajah, ciuman dan kemaluannya (selama bukan jima’,ed) apabila mengeluarkan air mani, maka batal puasanya. Apabila tidak mengeluarkan air mani maka tidak batal puasanya. Sebagian para ulama mengatakan: “Hukumnya makruh apabila tidak sampai mengeluarkan air mani, apabila sampai mengeluarkan mani maka haram”.

Sebagian para ulama yang lainnya mengatakan: “Hukumnya mubah (boleh) apabila tidak sampai mengeluarkan air mani, hal ini berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi : “Beliau mencumbu (istrinya) dalam keadaan berpuasa dan beliau mencium (istrinya) dalam keadaan berpuasa”. (HR. Bukhori no.1927, Muslim no.1106 dari ‘Aisyah)
Adapun apabila mencumbu istrinya kemudian mengeluarkan air madzi, sebagian para ulama mengatakan batal puasanya, tetapi tidak ada dalil bagi mereka. Yang shohih dan benar, apabila seseorang mencumbu istrinya kemudian mengeluarkan air madzi maka syah dan tidak batal puasanya. Ini adalah madzhab yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Puasa adalah ibadah syar’iyyah, tidak boleh seseorang mangatakan batal kecuali harus dengan dalil.
(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)

Soal 12 : Apabila seorang suami memaksa istrinya untuk berjima’ pada siang hari di bulan Romadlon dalam keadaan keduanya menjalankan puasa dan keduanya tidak mampu untuk memerdekakan budak atau menjalankan puasa denda 2 bulan berturut-turut karena kesibukannya dalam mencari nafkah, apakah cukup baginya memberi makan pada Si miskin ? Berapa kadar/jumlahnya

Jawab :


Apabila seorang suami memaksa istrinya untuk berjima’ pada siang hari di bulan Romadlon dalam keadaan keduanya menjalankan puasa maka puasa seorang istri tersebut sah dan tidak diwajibkan atasnya membayar kaffaroh/denda.
Sedangkan suaminya, wajib baginya mengqodlo’ puasanya dan membayar kaffaroh/denda apabila terjadi hal yang demikian. Kaffaroh/dendanya yaitu memerdekakan budak, apabila tidak ada maka wajib menjalankan puasa 2 bulan berturut-turut, apabila tidak mampu maka memberi makan kepada 60 orang miskin berdasarkan hadits Abu Hurairah t yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.
(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Soal 13 : Seorang perempuan dalam keadaan tua dan telah mengalami pikun (hilang akalnya). Kemudian dia meninggal dan mempunyai hutang dua kali Romadlon, dalam keadaan dia tidak mengetahui Romadlon dari orang lain disebabkan karena pikunnya tersebut. Apakah diwajibkan bagi anaknya untuk membayar fidyah atau berpuasa yang ditujukan kepadanya?



Jawab :


Dia (perempuan tersebut) termasuk golongan orang-orang yang tidak berkewajiban untuk menjalankan ibadah apapun. Sebagaimana sabda Rosululloh (yang artinya): “Diangkat Al-Qolam atau pena (tidak berkewajiban menjalankan ibadah) dari tiga golongan, yaitu: orang gila sampai dia sadar, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang tidur sampai dia bangun”. Dari hadits ini maka perempuan tersebut termasuk golongan orang-orang yang tidak berkewajiban untuk menjalankan ibadah apapun. (Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i)

Sumber :
http://www.darussalaf.or.id

diambil dari http://salafypomalaa.wordpress.com/2008/08/30/fatwa-ulama-seputar-puasa-ramadhan/

Kumpulan Do'a Hisnul Muslim

DO’A MASUK WC
10- (بِسْمِ اللهِ) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.
10.“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan”.[1]

 DO’A KELUAR DARI W.C
11- غُفْرَانَكَ.
11.“Aku minta ampun kepada-Mu”.[2]

 BACAAN SEBELUM WUDHU’
12- بِسْمِ اللهِ.
12.“Dengan nama Allah (aku berwudhu)”.[3]

BACAAN SETELAH WUDHU’
13- أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
13.“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.[4]
14- اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.
14.“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci”.[5]
15- سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
15.“Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memuji kepada-Mu. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq di sembah selain Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu”.[6]


 BACAAN KETIKA KELUAR RUMAH
16- بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.
16.“Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakkal kepada-Nya, dan tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah”.[7]
17- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.
  17.“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi”.[8]

 BACAAN APABILA MASUK RUMAH
18- بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ.
18.“Dengan nama Allah, kami masuk (ke rumah), dengan nama Allah, kami keluar (darinya) dan kepada Tuhan kami, kami bertawakkal”. Kemudian mengucapkan salam kepada keluarga-nya.[9]

DO’A PERGI KE MASJID
19- اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شِمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. (اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ ) (وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا) (وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ).
19.“Ya Allah ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatan-ku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untuk-ku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku”[10] [Ya Allah, ciptakan-lah cahaya untukku dalam kuburku … dan cahaya dalam tulangku”][11], [“Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku”][12], [“dan karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya”][13]

DO’A MASUK MASJID
20- أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ) (وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ) اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
20.“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk.[14] Dengan nama Allah dan semoga shalawat [15] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah [16] Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” [17]

 DO’A KELUAR DARI MASJID
21- بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
21.“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”.[18]

BACAAN KETIKA MENDENGARKAN ADZAN
22- يَقُوْلُ مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ إِلاَّ فِيْ (حَيََّ عَلَى الصَّلاَةِ وَ حَيََّ عَلَى الْفَلاَحِ) فَيُبْدِلُهُمَا: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
22. “Seseorang yang mendengarkan adzan, hendaklah mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, kecuali dalam kalimat: Hayya ‘alash shalaah dan Hayya ‘alal falaah. Maka mengucapkan: ’Laa haula wala quwwata Illa billah’.[19]
23- (( وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا ))
23.“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama (yang benar). [20](Dibaca setelah muadzin membaca syahadat).[21]
24. Membaca shalawat atas Nabi r sesudah adzan.[22]
25- اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، (إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ).
25.“Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi r) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”.[23]
26. Berdo’a untuk diri sendiri antara adzan dan iqamah, sebab do’ pada waktu itu dikabulkan.[24]


[1]. HR. Al-Bukhari: 1/45 dan Muslim: 1/283. Sedang tambahan bismillah pada permulaan hadits, menurut riwayat Said bin Manshur. Lihat Fathul Baari: 1/244.

[2] . HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil 1/122.
[3] HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil 1/122.
[4]. HR. Muslim: 1/209.
[5]. HR. At-Tirmidzi: 1/78, dan lihat Shahih At-Tirmidzi: 1/18.
[6] . HR. An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah, halaman; 173 dan lihat Irwa’ul Ghalil: 1/135 dan 2/94.
[7]. HR. Abu Dawud: 4/325, At-Tirmidzi: 5/490, dan lihat Shahih At-Tirmidzi: 3/151.
[8]. HR. Seluruh penyusun kitab Sunan, dan lihat Shahih At-Tirmidzi: 3/152 dan Shahih Ibnu Majah: 2/336.
[9]. HR. Abu Dawud: 4/325, dan Al-‘Allamah Ibnu Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar, no. 28. Dalam Kitab Shahih: “Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk rumah dan makan, syaitan berkata (kepada teman-temannya), "Tiada tempat tinggal dan makanan bagi kalian (malam ini)’.” Muslim, no. 2018.
[10]. Hal ini semuanya disebutkan dalam Bukhari: 11/116 no.6316, dan Muslim: 1/526, 529, 530, no. 763.
[11]. HR. At-Tirmidzi no.3419, 5/483.
[12]. HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 695, hal.258. Al-Albani menyatakan isnadnya shahih, dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, no. 536.
[13]. Disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, dengan menisbatkannya kepada Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Ad-Du’a. Lihat Fathul Bari: 11/118. Katanya: “Dari berbagai macam riwayat, maka terkumpullah sebanyak dua puluh lima pekerti”.
[14]. HR. Abu Dawud, lihat Shahih Al-Jami’ no.4591
[15]. HR. Ibnu As-Sunni no.88, dinyatakan Al-Albani “hasan”.
[16]. HR. Abu Dawud, lihat Shahih Al-Jami’ 1/528.
[17]. HR. Muslim: 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, Al-Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.
[18]. Tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah: 129.
[19]. HR. Bukhari: 1/152, Muslim: 1/288.
[20]. HR. Bukhari: 1/152 dan Muslim: 1/288.
[21]. HR. Ibnu Khuzaimah: 1/220.
[22]. HR. Muslim: 1/288.
[23]. HR. Bukhari: 1/152. Untuk kalimat: ‘Innaka laatukhliful mii’aad’, menurut riwayat Baihaqi: 1/410, Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar, hal. 38.
[24]. HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Ghalil: 1/262.

Senin, 25 Juli 2011

Balimau Bersama & Maksiat Bersama


Bissmillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaiku....Wr.Wb
               Akhi wa ukhti yang dirahmati Allah bulan ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang beriman karena pada bulan ramadhan setiap amal akan dilipat gandakan pahalanya dan dosa-dosa yang telah berlalu akan diampuni bagi umat islam yang berpuasa dengan penuh keimanan dan perhitungan. Sehingga setiap ramadhan datang orang beriman selalu gembira, kegembiraan orang beriaman dalam menyambut ramadhan diatandai dengan peningkatan ibadah dan berbagai macam agenda rutin dalam lingkup ibadah serta dibarengi dengan penyesalan terhadap dosa-dosa yang telah berlalu, mereka harap dan cemas, harap meraka agar dosa yang berlalu diampuni oleh Allah SWT. dan mereka cemas apabila akhir ramadhan nantik amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT.
         Sebagian besar umat islam menyambut ramadhan selalu dengan keceriaan akan tetapi keceriaan yang diperlihatkan umat islam sering kali salah arti, mayoritas umat islam bahagia dengan datangnya ramadhan karena ramadhan kesempatan bagi mereka untuk pesta makanan dan ada juga yang bahagia dengan datangnya ramadhan karena tradisi  balimau bersama "Maksiat bersama", inilah rasanya kata-kata yang pantas kita ucapkan dengan kenyataan hari balimau yang kita saksikan setiap tahunnya. Muda-mudi mandi bersama bercampur baur laki-lakiu dan perempuan dengan pakai renang ala Barat apakah itu ditempat tempat-tempat wisata pemandian umum atau bahkan disetiap tepian sungai tidak luput dari perayaan balimau, bukan menyesali dosa yang mereka lakukan tetapi perayaan maksiat untuk menumpuk dosa yang mereka lakukan nau'uzubillahiminzalik.....
            Sebagai seorang muslim seharusnya kita berkaca kepada sikap para sahabat dalam menyambut ramadhan, pada umumnya para sahabat menyambut ramadhan bahagia dengan ramadhan karena mereka berharap panen "Pahala" bukan "Panen Harta" dan bukan pula "Panen dosa" karena kecendrungan umat islam yang kita lihat selama ini mereka terlalu banyak menghamburkan harta untuk membeli makanan yang melebihi kebutuhannya sehingga pada siang harinya banyak makanan yang terbuang, sedangkan tetangganya banyak yang kelaparan. Bukankah kita berpuasa merasakan penderitaan rakyat kecil yang senantiasa kelaparan setiap hari.....bb

10 LANGKAH YANG DIAJARKAN RASULULLAH DALAM MENYAMBUT KEDATANGAN RAMADHAN

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.
2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.
3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadan. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.
4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]
6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.
9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
· buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
· membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.
10. Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Dari sebuah Laman di Malaysia 3 tahun yang lalu (maaf saya kehilangan jejak alamatnya..), saya mendapatkan  persiapan menyambut Ramadhan ini, dalam agenda yang tertata baik, sempat copy pastekan dalam postingan saya. Tahun ini saya melakukan hal yang sama, karena saya merasakan manfaanya ketika mempersiapkan ramdhan dengan sepenuh hati. Semoga para sahabat juga akan merasakan yang saya dapatkan. (jika perlu dapat saja masing-masing dari kita melakukan perubahan dan penyesuaian sesuai dengan situasi masing-masing) semoga bermanfaat.

Agenda  Menyambut Ramadhan 1430 H

Minggu I : 10 Juli – 17 juli 2009/ 18 – 24 Rajab 1430 H
Tema : Menyadarkan hati
Kegiatan :
- Fokus minggu ini ialah untuk mengembalikan kestabilan jiwa dengan cuti panjang untuk hal-hal berikut:
• Mencoba untuk mendapatkan khusyuk ketika sholat.
• Tilawah Al-Quran dan mencoba mengkhatamkannya minima sekali sebelum Ramadhan.
• Membaca atau mendengar ceramah dari kaset berkenaan Allah, Syurga dan nikmatnya, Zikrullah, Taubat dan sebagainya.
• Berfikir tentang kejadian makhluk Allah.
• Muhasabah diri tentang apa yang telah dicapai ditahun ini.
• Doa semoga Allah membantu kita bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan padaNYA. Ini merupakan waktu yang cukup baik untuk meninggalkan beberapa sikap buruk seperti merokok, mengumpat, mengeluarkan kata-kata kasar dan sebagainya.
Minggu II : 18 Juli – 24 juli’09/ 25 Rajab – 1 Sya’ban 1430 H
Tema : Minggu Puasa dan Quran
Kegiatan : Meneruskan kegiatan minggu I ditambah dengan kegiatan yang fokus pada tazkirah mengenai Ramadhan untuk memberi rangsangan dan motivasi yang berpanjangan.
• Mulai puasa senin dan Kamis.
• Memperbanyak membaca dan mendengar Al-Quran.
• Mencoba untuk menghabiskan satu juz Al-Quran sehari agar dapat khatam sebelum Ramadhan.
• Mengulangi dan mengkaji hafalan Al-Quran yang telah dihafalkan sebelum ini.
Minggu III : 25 juli– 31 juli’09/ 2 – 8 Sya’ban 1430 H
Tema : (Minggu Fajar, Zikir dan Sedekah)
Kegiatan :- Tetap mengerjakan kegiatan yang telah dilakukan di dua minggu sebelumnya ditambah dengan
• Tunaikan solat Subuh pada waktunya dan dua raka’at sebelumnya. (Sholat Sunnah Qobliyah Subuh)
• Tunaikan zakat harta.
• Banyakkan amalan sedekah.
• Pelajari jenis-jenis sedekah selain harta (senyum, perkataan yang baik, menolong orang Islam….)
Minggu IV : 1 – 7 Agust’09/ 9 – 16 Sya’ban 1430 H
Tema : Minggu Qiyamullail dan Amalan Sunah
Kegiatan :- Tetap mengerjakan kegiatan yang telah dilaksanakan hingga minggu ke III dan ditambahkan dengan
• Mulai dengan Qiyamullail 3 kali dalam seminggu.
• Tunaikan dua rakaat selepas Isya’ sebelum (tidur). atau Sholat Sunnah Ba’diyah Isya’
• Berusaha agar dapat bangun pagi 30 menit sebelum adzan Subuh, Iltizam dengan sunnah Rawatib (2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya’, Solat Dhuha antara terbit matahari hingga waktu Dzuhur dan Sholat Witir selepas Isya’ hingga sebelum Subuh)
• Iltizam dengan Tilawah Quran selepas Subuh hingga terbit matahari diikuti dengan 2 rakaat Dhuha. Lakukan sekali seminggu sebagai permulaannya yaitu pada awal-awal minggu ke IV.
• Mencoba mengatur jadwal dan pola makan anda agar benar-benar menyehatkan dan menghindari makan dengan jumlah yang terlalu banyak. Ini penting untuk memastikan Ramdhan yang bakal datang itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan bukannya pesta makan!
Minggu V : 9 – 14 Agust’09 / 17 – 22 Sya’ban 1430 H
Tema : Minggu Silahturahim
Kegiatan : Lanjutkan kegiatan yang telah dapat dikerjakan hingga minggu ke IV dan tambahkan dengan
• Muliakan minggu ini membangun ikatan silahturahim, baik itu melalui bertemu langsung, atau dengan pembicaraan telepon, e-mail dsbnya juga dengan perbanyak doa untuk orang tua serta kaum kerabat.
• Saling memberikan hadiah yang bermanfaat.
• Menjadikan menjambut Ramadhan sebagai isue paling penting.
Minggu VI : 15 – 21 Agust’09 / 22 – 29 Sya’ban 1430 H
Tema : Minggu Doa dan Taubat
Kegiatan :- Tetap mengerjakan semua amalan yang telah dapat dilakukan pada V minggu sebelumnya ditambah dengan
• Minggu ini merupakan minggu persiapan terakhir.
• Banyakkan doa dan istighfar. Mohon agar dipertemukan dengan Ramadhan, diberi kekuatan untuk melakukan ketaatan pada bulan Ramadhan nanti dan diterima segala amalan yang kita lakukan.
• Bertaubat sepenuhnya di atas segala keterlanjuran sebelum ini, dan mulailah lembaran baru dengan Allah.
• Pastikan anda khatam Al-Quran pada minggu ini.
• Menyediakan “Kantong Ramadhan” atau menyiapkan dana khusus keperluan berbuka untuk diedarkan kepada kepada keluarga-keluarga miskin.
• Pada malam melihat pergantian bulan, kumpulkan seluruh keluarga untuk bersama-sama menantikan pengumuman pemerintah tentang tibanya bulan Ramadhan.
• Gembirakan anak-anak dengan mengantung perhiasan seperti balon warna-warni, hiasan rumah dan sebagainya sebagai lambang kegembiraan menyambut tibanya bulan Ramadhan. Agar sejak dini anak-anak ini akan meresapi betapa berharga dan bahagianya kesempatan memperoleh bulan Ramadhan dalam hidup.
“Apabila malam pertama Ramadhan menjelang, syaitan dan para pelampau jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tiada satupun yang dibuka, pintu-pintu syurga pula dibuka dan tiada satupun yang ditutup. Si tukang seru menyeru: Wahai pencari kebaikan! Ayo maju. Wahai pencari kejahatan! Ayo berhenti”.
[Diriwayatkan oleh at-Tirmizi]
“Ramadhan telah tiba kepada kamu. Ia bulan berkat yang dilimpahkan oleh Allah untuk kamu. Di dalamnya, Dia menurunkan rahmat, menghapuskan kesalahan, mengqabulkan doa, menonton persaingan kamu dalam kebaikan dan berbangga dengan kamu di hadapan para malaikatNya. Lantaran itu, tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kamu. Orang yang malang ialah sesiapa yang tidak memperolehi rahmat Allah ‘Azza wa Jall”
[Diriwayatkan oleh at-Tobroni]
Marilah kita berniat semoga Ramadhan tahun ini akan menjadikan kita lulus dalam keadaan yang bertambah keimanan dan meningkat ketaqwaan. Insya Allah.
“Siapa yang bangun malam bersembahyang pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan (keredhaan Allah), dosanya yang lalu diampunkan”. [Diriwayatkan oleh al-Bukhari]
“Apabila seorang lelaki membangunkan keluarganya (isterinya) pada waktu malam lalu mereka berdua bersembahyang atau setiap daripada mereka bersembahyang dua rakaat, mereka dicatat sebagai golongan lelaki dan perempuan yang berzikir” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]